Selalu Awasi Anak dengan “Touch Supervision”
Berenang bersama anak wajib didampingi orang dewasa yang fokus. Gunakan prinsip “touch supervision”, yaitu berada dalam jarak jangkauan tangan untuk mengantisipasi gerakan tiba-tiba.
Hindari penggunaan ponsel atau aktivitas lain saat mengawasi anak di kolam. Data Kemenkes RI menyebut, 80% kasus tenggelam pada anak terjadi karena pengawasan yang kurang.
Gunakan Perlengkapan Keselamatan yang Tepat
Pastikan anak menggunakan alat pelampung yang sesuai ukuran tubuh, seperti life jacket berstandar SNI atau pelampung lengan.
Hindari mengandalkan mainan seperti floaties karena rentan bocor. Pasang juga alarm kolam yang berbunyi saat air terganggu dan pagar pembatas setinggi 1,2 meter untuk mencegah anak masuk tanpa izin.
Ciptakan Area Kolam yang Ramah Anak
Permukaan kolam harus anti-licin dengan material keramik non-slip atau karet khusus.
Pastikan kedalaman kolam maksimal 1 meter untuk area bermain anak. Gunakan penutup drainase kolam berstandar keamanan (anti-entrapment cover) untuk menghindari tersedotnya rambut atau anggota tubuh.
Ajarkan Anak Aturan Dasar Keselamatan
Latih anak untuk tidak berlari di pinggir kolam, tidak makan/minum saat berenang, dan memahami area dangkal vs dalam.
Lakukan simulasi “STOP” (berhenti saat ada bahaya) dan ajarkan cara meminta pertolongan. Edukasi ini bisa dimulai sejak usia 3 tahun.
Siapkan Langkah Darurat dan Pelatihan Pertolongan Pertama
Simpan nomor darurat (118/119) di dekat kolam dan pastikan orang dewasa di sekitar memahami teknik CPR (resusitasi jantung paru).
Letakkan kotak P3K dan rescue hook (tongkat penyelamat) di area yang mudah dijangkau. Lakukan latihan rutin simulasi keadaan darurat.